Senin, 28 April 2014

Pelangi Sesudah Hujan

Hujan…
Memang tak terlalu deras, tapi sudah cukup untuk membuat seragam ku basah setidaknya aku sendirian, aku menyukai hujan tapi bukan karena aku menyukai basahnya aku hanya menyukai airnya yang perlahan membasahi tubuh ini.. Tak ada yang bisa melihat tangis ku kan?
Ternyata benar tentang apa yang sering dikatakan orang-orang
“menyembunyikan daun harus di tengah hutan.. Dan menyembunyikan tangis harus di tengah hujan”
Seandainya waktu dapat berputar kembali…
Tapi tidak mungkin kan?
Karena air yang mengalir pun tak akan berhenti untuk mengikuti takdirnya, menangis ku memang tak ada gunanya

Hal Yang Membuat Kita Berbeda

Tak terasa sore menjelma senja, sajikan panorama langit berwarna jingga, bersambut semilir angin yang mulai menggetarkan bulu rona. Nuansa hari ini tak sejernih kemarin sobat, saat senyum dan candamu masih terukir di tanah ini. Masih terbayang jelas dalam ingatan ini tentang dialog terakhir kita di malam itu.
Kalimat darimu yang masih ku ingat “Suatu saat keadaan akan berubah, kita takkan menjadi orang yang diremehkan lagi, tak ada yang tak mungkin di dunia ini, meski harus melewati cobaan yang berat, kita menghirup udara yang sama, merasakan terik matahari dan dingin malam yang sama, kita juga berpeluang meraih kejayaan pada saatnya nanti” ujarmu. Itu perbincangan terakhir beberapa saat sebelum kita berpisah.
Karena hari sudah mulai gelap, aku pun beranjak dari halaman rumahmu yang kini nampak sepi.

Aku Harus Berusaha

Maudi ayunda itulah nama yang diberikan kedua orangtua ku. aku bukanlah anak yang mampu dalam ekonomi. namun aku mampu dalam berusaha, semangatku menggapai cita-cita sering kali dipatahkan oleh ekonomi. namun, aku berusaha menjadi orang yang selalu berusaha dan berusaha untuk mematahkan ekonomi sehingga tidak ada lagi batasan yang akan mematahkan semangat teman-temanku.
Senja sore aku sangat menikmati sekali mentari terbenam, seringkali aku menangis dan mengatakan: “mentari kau terbit dari ufuk timur dan terbenam pada ufuk barat, kau sendiri namun menyinari, kau sungguh tegar. aku ingin seperti mu, meski aku tak mempunyai apa-apa namun aku ingin sekali menjadi sumber kebahagiaan untuk di sekelilingku”.
Aku takut dengan hidup yang terus-menerus seperti ini, disamping rasa takutku ada kekuatan cinta dari tuhan dan keluargaku sehingga aku menumbuhi rasa semangat yang terus aku tanam dalam diri ini. aku, perempuan namun aku harus tegas pada diriku sendiri. aku tidak boleh memelas, manja dan pasrah dalam hidup, tapi aku harus berusaha…

Move On

Namaku alya, aku bekerja di kantor fashion. Hari ini adalah hari pertama kerja di kantor tempat tante aku berkerja walaupun aku gak di tempatin bareng tanteku, tapi aku senang banget bisa kerja di sini, hari pertama sudah aku lalui dengan baik dan temen kerja aku juga baik banget namanya stella, dia kerja di sini sudah lama banget.
Gak kerasa sudah seminggu aku kerja di kantor ini, siangnya aku ketemu sama cowok yang cakep dan ramah kirain aku dia itu pengujung kantor ini karena aku baru melihatnya sekarang, eh ternyata dia juga kerja di sini tapi bagiannya berbeda dia sudah lama kerja di sini dan jabatannya pun lebih tinggi dari aku, bisa di bilang managerku.
Waktu pertama lihat dia hatiku dag dig dug kaya mau copot saja tapi aku gak berpikiran jauh karena kita berbeda status, dia itu atasanku dan aku bawahannya, eh keesokan harinya kita ketemu lagi perasaan aku seneng banget bisa lihat dia lagi, walaupun aku tahu cuman aku saja yang merasakan perasaan ini semua, kayanya dia hanya menganggapku bawahannya saja tidak lebih dari itu.

Impian Hati Menjadi Habibie

Suatu ruang gelap ramai. Siang hari menuju sore
Tampak 4 orang sedang menuju bioskop, keempat sahabat yang dibayangkan tokoh Pahlawan Habibe (B.J. Habibie) dengan Ibu Ainun di suatu layar bioskop.
Diyah dan Retno tampak mengantri untuk membeli karcis di suatu ruang. Yang tampak lelah menunggu karcis sambil berdiri. Dan akhirnya mereka mendapatkannya.
“Teman-teman, ini karcisnya sudah dapat!.”
“Mana-mana?” Sambil berlari menuju ke tempat Diyah dan Retno.
“Ayo, kita cepat masuk ke Bioskop!.”
“Iya, ntar malah ketinggalan ceritanya.”
Setelah semua selesai menonton bioskop, tampak keempat anak keluar dari bioskop dan berdiri di depan bioskop sambil mencari tempat duduk untuk bersinggah dan membeli sebuah makanan ringan.
“Wah, tadi cerita Habibie dan Ainun sangat bagus dan tepat untuk dijadikan teladan” Bicara dengan teman-temannya.
“Iya, tadi sangat Istimewa dan mengharukan. Disamping ceritanya bisa dijadikan inspirasi kita juga dapat dijadikan motivasi kita dalam belajar sehingga mampu dalam membangun negri tercinta ini Indonesia.”
“Aku mau beli camilan dan minuman dulu ya.”
“Dasar kamu tu Vin, pikiranmu kok makan terus.”
“Ya gak apa-apa dong, sambil kita bicara tentang kisah habibie dan ainun lebih enak sambil nyemil. Udah, sekarang ada yang titip apa gak?.”
“Ok! aku setuju-setuju aja, tapi aku makanannya jangan yang pedas-pedas. Ntar aku malah sakit perut.”
“Udah dari pada bingung mending belinya sama aja. Tapi jangan banyak-banyak, jangan jadi anak yang boros! Kita juga perlu nabung untuk masa depan kita.”
Semua pada menunggu Kevin membawakan sebuah makanan ringan (Camilan) dan minuman. Setelah Kevin datang, mereka melanjutkan pembicaraan yang sempat terputus.
“Mana si Kevin, kok gak datang-datang. Dia itu lama kalau melakukan sesuatu.”
“Udah lah Ret, kamu sabar dikit kenapa?.”
“Iya tuh, kamu gak sabaran!.”
“Huh…”
“Ini udah dapat semua pesanan kalian.”
“OK, Terima Kasih.”
“Ngomong-ngomong tadi, menurut kalian bagaimana ceritanya?.”
“Ya.. seperti yang aku bilang tadi.”
“Iya, ceritanya memang sangat menarik. Ada kisah tentang perjuangan, kesabaran, ketulusan, keikhlasan, jiwa nasionalisme untuk membangun negeri tercinta ini dan cinta sejati antara Pak Habibie dan Ibu Ainun yang sangat apik dikemas dalam sebuah cerita.”
“Alah… sok tau aja kamu, Ret. Emang kamu ngerti apa yang tadi disampaikan pengarangnya?.”
“Apaan sih kamu!.” Bicara sinis
“Sudah, sudah jangan bertengkar!.”
“Nanti malah jadi suka lho….”
“Gak mungkin!.”
“Masih kecil, gak boleh pacaran.”
“Bener, apa yang dibilang Kevin. Belum saatnya! Apalagi kita masih SMP, masih banyak impian yang belum kita raih.”
“Iya tuh, Ringga!!!.”
“Iya deh maaf….”

Impian Anak Pemulung

“pak ni minum dulu” aku menyodorkan minum untuk bapaknya yang sedang asik meremukan kaleng-kaleng bekas yang kami cari. Bapak menerima minuman yang ku sodorkan tanpa berkata-kata. Mungkin karena bapak sedang lelah jadi dia tidak terlalu meresponku pikirku dalam hati.
Inilah pekerjaanku dan ayahku untuk menyambung hidup kami. Terpaksa pekerjaan ini yang harus kami jalani setelah ayah diPHK dari perusaanya dan ditambah lagi harta kami habis untuk pengobatan ibuku yang sedang sakit keras. Dan imbasnya aku pun juga harus putus sekolah karena bapak tidak sanggup lagi membayar uang sekolahku. Namun aku tidak kecewa karena aku tahu pasti tuhan memiliki rencana yang indah dibalik kejatuhan kami dan cita-citaku juga tidak terlalu tinggi aku hanya ingin menjadi seorang pemain sepak bola.
Setelah lama beristirahat bapak mengajakku untuk melanjutkan mencari ujung tombak penyambung hidup kami. Tapi aku tidak merespon kareena perhatianku tertuju melihat anak-anak yang sedang asik bermain bola di lapangan yang ada di hadapan kami. Melihat aku yang termenung bapak pun memukul pundakku sambil bertanya padaku “kamu ingin bermain bola nak?, main saja sana biar bapak yang melanjutkan pekerjaan ini” kata bapak sambil merangkul pundakku. Aku sangat kegirangan bukan main karena aku di izinkan bapak “aku janji pak bakal pulang malam-malam” teriakku sambil berlari kelapangan untuk menghampiri orang-orang yang sedang bermain tersebut.
Sesampainya di tengah lapangan semua orang yang ada di sana terdiam sejenak melihat kehadiran ku dan mereka melihat dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung kepalaku. Mungkin mereka heran melihat pakaianku yang compang-camping. Awalnya aku merasa takut melihat pandangan mereka kepadaku namun, aku beranikan diri untuk memperkenalkan diri dan meminta mereka untuk mengizinkan aku bergabung dengan mereka. Tapi ternayata yang ku pikirkan berbanding terbalik dengan yang kelihatan. Mereka sangat ramah terhadapku dan mereka pun menyalamiku sambil memperkenalkan diri mereka masing-masing. Namun tiba-tiba seorang anak menghampiriku “Eh gembel, mendingan lu pergi dari sini, orang kayak lo gak pantas gabung sama kita-kita” mendengar perkataan itu aku tertunduk leseh tapi untunglah temanku yang lain berpihak kepadaku dan salah satu dari mereka membisikan sesuatu Doni namanya “sudahlah, jangan masukan ke hati omongan rio dia memang agak sombong. mungkin karena dia baru-baru ini diterima masuk timnas. Kamu boleh kok gabung sama kita-kita” melihat perbincangan kami yang terlalu lama rio kembali membentaku dan dia memberiku tantanga jugling mengitari satu lapangan dan jika aku menang barulah aku boleh bergabung dengan mereka. Awalnya aku hanya terdiam namun melihat teman-temanku yang lain terus memotivasiku semangatku jadi meningkat kembali dan aku pun menerima tantangan Rio.

Hujan Terakhir

Oktober 2012, 00:25, hujan rintik.
Sorotan lampu belajar masih memenuhi meja belajar nya, dia tidak peduli seberapa besar rasa kantuk yang menggelayuti kelopak matanya untuk segera turun mengantongi kedua bola mata cokelat itu. Masih menatap berbagai rumus bangun ruang di atas kertas putihnya, pythagoras yang tak pernah terpecahkan. Di kertas coret-coretan nya berbagai macam angka dari satuan hingga ribuan telah bertebaran dengan hasil operasi hitung nya, tidak juga ketemu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membenarkan posisi duduknya hingga bangku yang ia duduki berdecit, matanya memandang ke sebuah pigura yang terletak manis di atas meja belajar nya. Foto dirinya dan mantan kekasihnya yang tidak tahu ada di mana sekarang, tarikan nafas nya berat, entah ia merasa lega atau melepaskan beban di dadanya yang terkadang sulit ia lepaskan.
Ia melirik lemah berbagai rumus di depannya, tugas akhir dari dosen yang kadang tidak mampu ia pecahkan sendiri, tetapi jika belajar kelompok pun tidak akan membantu banyak, paling hanya mengobrol dan menghabiskan waktu untuk berdiskusi dengan topik pertandingan bola atau balapan motor, obrolan umum khas lelaki. Ini tugas akhir yang sangat menyita waktu, mengerjakan lima puluh soal yang diberikan dosen dengan waktu kurang dari satu minggu, belum lagi tugas akhir dari mata kuliah yang lain. Punggung nya tidak kuat lagi menahan pegal yang menggantung, ia hempaskan tubuhnya ke atas kasur single nya yang empuk, tak kurang sepuluh menit ia memejamkan mata, pikirannya sudah terbang jauh ke alam mimpi.
Lorong jurusan Teknik Elektro hari ini cukup ramai, UAS memang selalu menjadi momen yang membuat mahasiswa belajar. Yang tadinya hanya nongkrong-nongkrong di koridor kampus sambil mengotorinya dengan kulit kacang rebus, minimal sekarang ada buku yang dijepit di sela-sela jari mereka, walaupun sedikit yang terhapal.
“Ega!” seseorang memanggil lelaki yang memiliki postur tubuh jangkung dan berambut gondrong.
Ia menatap wanita mungil yang berlari kecil ke arah nya dengan menenteng buku di tangannya.
“Ada sesuatu buat lo” ucap wanita itu kepada Ega.
“Apa Wen?”
Wanita kecil yang bernama Wendy kemudian membuka tas ranselnya dan mengeluarkan undangan berwarna putih susu dan berpita cokelat manis di atasnya.
“Dari Keysha, sudah seminggu ada di gue, tapi baru sempat gue kasih ke lo hari ini. Maaf ya, Ga”